KISAH HACHIKO

Hachiko merupakan seekor anjing jantan jenis Akita Inu, kelahiran Odate, Prefektur Akita, pada 10 November 1923. Ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikannya. Setelah majikannya meninggal, Hachiko terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.

Julukannya adalah Hachiko Anjing yang Setia (Chuken Hachiko). Untuk mengenangnya dibuatlah sebuah patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya yang berada di salah satu marka jalan Shibuya, masyarakat setempat sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachiko.

*Kisah Hidup Hachiko
Hachiko lahir dari induk yang bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Oshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saito dari kota Odate, Prefaktur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Odate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekita 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburo Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berumur 35 tahun. Profesor Ueno adalah seorang pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno telah beberapa kali memelihara anjing jenis Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Dirumah keluarga Ueno, yang berdekatan dengan Stasiun Shibaya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan Jhon.

Ketika Profesor Ueno berangkat kerja, Hachi selalu mengantar majikannya di pintu ruma atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari bersama S dan Jhon, Hachi juga kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Dipetang hari Hachi juga kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggu majikannya yang tak kunjung pulang, dan tak mau makan selama tiga hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara Tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah tiada. Ditemani S dan Jhon, ia pergi ke Stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang menimpa Hachi, istri Profesor Ueno, Yae harus meninggalkan rumah Profesor Ueno, Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan Jhon kemudian dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memilki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi melompat-lompat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan dirumah kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya Hachi ditipkan kerumah putri angkat Profesor Ueno, di Setayaga. Namun Hachi suka bermain ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluraga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor ueno kala masih hidup, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah hachi menunggu majikannya di Stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saito dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di Stasiun, Saito menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul, "Itoshiya roken monogatari" (Kisah Anjing Tua yang Tercinta).

Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang disekitar stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran "ko" (sayang) ditambahkan dibelakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachiko.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saito, seorang pematung bernama Teru Ando tersentuh dengan kisah Hachiko. Ando ingin membuat patung Hachiko. Setiap hari, Hachiko dibawa berkunjung ke studio milik Ando untuk berfose sebagai model. Ando berusaha mendahului laki-laki yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachiko. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachiko untuk kepentingan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Ando selesai menulis proposal untuk mendirikan patung hachiko, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachiko.

Patung Hachiko akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachiko bersama sekitar 300 orang. Ando juga membuat patung lain Hachiko yang sedang tiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kojun.

*Kematian Hachiko*
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachiko yang kala itu berumur 13 tahun ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachiko biasanya tidak pernah pergi ke sana. berdasarkan otopsi diketahi penyebab kematiannya adalah filariasis (penyakit menular yang disebabkan edema, infeksi cacing nematoda parasit).

Upacara perpisahan dengan Hachiko dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda mendiang Profesor Ueno, pasutri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myoyu-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachiko berlangsung layaknya upacara pemakaman manusia.

Hachiko dimakamkan di samping makam Profesor Ueno, di pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.


Hachiko merupakan seekor anjing jantan jenis Akita Inu, kelahiran Odate, Prefektur Akita, pada 10 November 1923. Ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikannya. Setelah majikannya meninggal, Hachiko terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.

Julukannya adalah Hachiko Anjing yang Setia (Chuken Hachiko). Untuk mengenangnya dibuatlah sebuah patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya yang berada di salah satu marka jalan Shibuya, masyarakat setempat sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachiko.

*Kisah Hidup Hachiko
Hachiko lahir dari induk yang bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Oshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saito dari kota Odate, Prefaktur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Odate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekita 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburo Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berumur 35 tahun. Profesor Ueno adalah seorang pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno telah beberapa kali memelihara anjing jenis Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Dirumah keluarga Ueno, yang berdekatan dengan Stasiun Shibaya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan Jhon.

Ketika Profesor Ueno berangkat kerja, Hachi selalu mengantar majikannya di pintu ruma atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari bersama S dan Jhon, Hachi juga kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Dipetang hari Hachi juga kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggu majikannya yang tak kunjung pulang, dan tak mau makan selama tiga hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara Tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah tiada. Ditemani S dan Jhon, ia pergi ke Stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang menimpa Hachi, istri Profesor Ueno, Yae harus meninggalkan rumah Profesor Ueno, Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan Jhon kemudian dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memilki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi melompat-lompat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan dirumah kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya Hachi ditipkan kerumah putri angkat Profesor Ueno, di Setayaga. Namun Hachi suka bermain ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluraga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor ueno kala masih hidup, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah hachi menunggu majikannya di Stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saito dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di Stasiun, Saito menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul, "Itoshiya roken monogatari" (Kisah Anjing Tua yang Tercinta).

Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang disekitar stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran "ko" (sayang) ditambahkan dibelakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachiko.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saito, seorang pematung bernama Teru Ando tersentuh dengan kisah Hachiko. Ando ingin membuat patung Hachiko. Setiap hari, Hachiko dibawa berkunjung ke studio milik Ando untuk berfose sebagai model. Ando berusaha mendahului laki-laki yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachiko. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachiko untuk kepentingan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Ando selesai menulis proposal untuk mendirikan patung hachiko, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachiko.

Patung Hachiko akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachiko bersama sekitar 300 orang. Ando juga membuat patung lain Hachiko yang sedang tiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kojun.

*Kematian Hachiko*
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachiko yang kala itu berumur 13 tahun ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachiko biasanya tidak pernah pergi ke sana. berdasarkan otopsi diketahi penyebab kematiannya adalah filariasis (penyakit menular yang disebabkan edema, infeksi cacing nematoda parasit).

Upacara perpisahan dengan Hachiko dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda mendiang Profesor Ueno, pasutri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myoyu-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachiko berlangsung layaknya upacara pemakaman manusia.

Hachiko dimakamkan di samping makam Profesor Ueno, di pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.


Hachiko merupakan seekor anjing jantan jenis Akita Inu, kelahiran Odate, Prefektur Akita, pada 10 November 1923. Ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikannya. Setelah majikannya meninggal, Hachiko terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.

Julukannya adalah Hachiko Anjing yang Setia (Chuken Hachiko). Untuk mengenangnya dibuatlah sebuah patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya yang berada di salah satu marka jalan Shibuya, masyarakat setempat sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachiko.

*Kisah Hidup Hachiko
Hachiko lahir dari induk yang bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Oshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saito dari kota Odate, Prefaktur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Odate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekita 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburo Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berumur 35 tahun. Profesor Ueno adalah seorang pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno telah beberapa kali memelihara anjing jenis Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Dirumah keluarga Ueno, yang berdekatan dengan Stasiun Shibaya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan Jhon.

Ketika Profesor Ueno berangkat kerja, Hachi selalu mengantar majikannya di pintu ruma atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari bersama S dan Jhon, Hachi juga kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Dipetang hari Hachi juga kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggu majikannya yang tak kunjung pulang, dan tak mau makan selama tiga hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara Tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah tiada. Ditemani S dan Jhon, ia pergi ke Stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang menimpa Hachi, istri Profesor Ueno, Yae harus meninggalkan rumah Profesor Ueno, Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan Jhon kemudian dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memilki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi melompat-lompat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan dirumah kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya Hachi ditipkan kerumah putri angkat Profesor Ueno, di Setayaga. Namun Hachi suka bermain ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluraga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor ueno kala masih hidup, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah hachi menunggu majikannya di Stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saito dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di Stasiun, Saito menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul, "Itoshiya roken monogatari" (Kisah Anjing Tua yang Tercinta).

Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang disekitar stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran "ko" (sayang) ditambahkan dibelakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachiko.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saito, seorang pematung bernama Teru Ando tersentuh dengan kisah Hachiko. Ando ingin membuat patung Hachiko. Setiap hari, Hachiko dibawa berkunjung ke studio milik Ando untuk berfose sebagai model. Ando berusaha mendahului laki-laki yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachiko. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachiko untuk kepentingan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Ando selesai menulis proposal untuk mendirikan patung hachiko, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachiko.

Patung Hachiko akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachiko bersama sekitar 300 orang. Ando juga membuat patung lain Hachiko yang sedang tiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kojun.

*Kematian Hachiko*
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachiko yang kala itu berumur 13 tahun ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachiko biasanya tidak pernah pergi ke sana. berdasarkan otopsi diketahi penyebab kematiannya adalah filariasis (penyakit menular yang disebabkan edema, infeksi cacing nematoda parasit).

Upacara perpisahan dengan Hachiko dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda mendiang Profesor Ueno, pasutri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myoyu-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachiko berlangsung layaknya upacara pemakaman manusia.

Hachiko dimakamkan di samping makam Profesor Ueno, di pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.


Hachiko merupakan seekor anjing jantan jenis Akita Inu, kelahiran Odate, Prefektur Akita, pada 10 November 1923. Ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikannya. Setelah majikannya meninggal, Hachiko terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.

Julukannya adalah Hachiko Anjing yang Setia (Chuken Hachiko). Untuk mengenangnya dibuatlah sebuah patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya yang berada di salah satu marka jalan Shibuya, masyarakat setempat sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachiko.

*Kisah Hidup Hachiko
Hachiko lahir dari induk yang bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Oshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saito dari kota Odate, Prefaktur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Odate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekita 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburo Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berumur 35 tahun. Profesor Ueno adalah seorang pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno telah beberapa kali memelihara anjing jenis Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Dirumah keluarga Ueno, yang berdekatan dengan Stasiun Shibaya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan Jhon.

Ketika Profesor Ueno berangkat kerja, Hachi selalu mengantar majikannya di pintu ruma atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari bersama S dan Jhon, Hachi juga kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Dipetang hari Hachi juga kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggu majikannya yang tak kunjung pulang, dan tak mau makan selama tiga hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara Tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah tiada. Ditemani S dan Jhon, ia pergi ke Stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang menimpa Hachi, istri Profesor Ueno, Yae harus meninggalkan rumah Profesor Ueno, Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan Jhon kemudian dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memilki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi melompat-lompat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan dirumah kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya Hachi ditipkan kerumah putri angkat Profesor Ueno, di Setayaga. Namun Hachi suka bermain ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluraga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor ueno kala masih hidup, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah hachi menunggu majikannya di Stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saito dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di Stasiun, Saito menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul, "Itoshiya roken monogatari" (Kisah Anjing Tua yang Tercinta).

Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang disekitar stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran "ko" (sayang) ditambahkan dibelakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachiko.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saito, seorang pematung bernama Teru Ando tersentuh dengan kisah Hachiko. Ando ingin membuat patung Hachiko. Setiap hari, Hachiko dibawa berkunjung ke studio milik Ando untuk berfose sebagai model. Ando berusaha mendahului laki-laki yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachiko. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachiko untuk kepentingan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Ando selesai menulis proposal untuk mendirikan patung hachiko, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachiko.

Patung Hachiko akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachiko bersama sekitar 300 orang. Ando juga membuat patung lain Hachiko yang sedang tiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kojun.

*Kematian Hachiko*
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachiko yang kala itu berumur 13 tahun ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachiko biasanya tidak pernah pergi ke sana. berdasarkan otopsi diketahi penyebab kematiannya adalah filariasis (penyakit menular yang disebabkan edema, infeksi cacing nematoda parasit).

Upacara perpisahan dengan Hachiko dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda mendiang Profesor Ueno, pasutri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myoyu-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachiko berlangsung layaknya upacara pemakaman manusia.

Hachiko dimakamkan di samping makam Profesor Ueno, di pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.


Hachiko merupakan seekor anjing jantan jenis Akita Inu, kelahiran Odate, Prefektur Akita, pada 10 November 1923. Ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikannya. Setelah majikannya meninggal, Hachiko terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.

Julukannya adalah Hachiko Anjing yang Setia (Chuken Hachiko). Untuk mengenangnya dibuatlah sebuah patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya yang berada di salah satu marka jalan Shibuya, masyarakat setempat sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachiko.

*Kisah Hidup Hachiko
Hachiko lahir dari induk yang bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Oshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saito dari kota Odate, Prefaktur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Odate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekita 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburo Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berumur 35 tahun. Profesor Ueno adalah seorang pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno telah beberapa kali memelihara anjing jenis Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Dirumah keluarga Ueno, yang berdekatan dengan Stasiun Shibaya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan Jhon.

Ketika Profesor Ueno berangkat kerja, Hachi selalu mengantar majikannya di pintu ruma atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari bersama S dan Jhon, Hachi juga kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Dipetang hari Hachi juga kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggu majikannya yang tak kunjung pulang, dan tak mau makan selama tiga hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara Tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah tiada. Ditemani S dan Jhon, ia pergi ke Stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang menimpa Hachi, istri Profesor Ueno, Yae harus meninggalkan rumah Profesor Ueno, Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan Jhon kemudian dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memilki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi melompat-lompat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan dirumah kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya Hachi ditipkan kerumah putri angkat Profesor Ueno, di Setayaga. Namun Hachi suka bermain ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluraga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor ueno kala masih hidup, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah hachi menunggu majikannya di Stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saito dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di Stasiun, Saito menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul, "Itoshiya roken monogatari" (Kisah Anjing Tua yang Tercinta).

Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang disekitar stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran "ko" (sayang) ditambahkan dibelakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachiko.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saito, seorang pematung bernama Teru Ando tersentuh dengan kisah Hachiko. Ando ingin membuat patung Hachiko. Setiap hari, Hachiko dibawa berkunjung ke studio milik Ando untuk berfose sebagai model. Ando berusaha mendahului laki-laki yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachiko. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachiko untuk kepentingan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Ando selesai menulis proposal untuk mendirikan patung hachiko, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachiko.

Patung Hachiko akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachiko bersama sekitar 300 orang. Ando juga membuat patung lain Hachiko yang sedang tiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kojun.

*Kematian Hachiko*
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachiko yang kala itu berumur 13 tahun ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachiko biasanya tidak pernah pergi ke sana. berdasarkan otopsi diketahi penyebab kematiannya adalah filariasis (penyakit menular yang disebabkan edema, infeksi cacing nematoda parasit).

Upacara perpisahan dengan Hachiko dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda mendiang Profesor Ueno, pasutri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myoyu-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachiko berlangsung layaknya upacara pemakaman manusia.

Hachiko dimakamkan di samping makam Profesor Ueno, di pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.


Hachiko merupakan seekor anjing jantan jenis Akita Inu, kelahiran Odate, Prefektur Akita, pada 10 November 1923. Ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikannya. Setelah majikannya meninggal, Hachiko terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.

Julukannya adalah Hachiko Anjing yang Setia (Chuken Hachiko). Untuk mengenangnya dibuatlah sebuah patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya yang berada di salah satu marka jalan Shibuya, masyarakat setempat sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachiko.

*Kisah Hidup Hachiko
Hachiko lahir dari induk yang bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Oshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saito dari kota Odate, Prefaktur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Odate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekita 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburo Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berumur 35 tahun. Profesor Ueno adalah seorang pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno telah beberapa kali memelihara anjing jenis Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Dirumah keluarga Ueno, yang berdekatan dengan Stasiun Shibaya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan Jhon.

Ketika Profesor Ueno berangkat kerja, Hachi selalu mengantar majikannya di pintu ruma atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari bersama S dan Jhon, Hachi juga kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Dipetang hari Hachi juga kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggu majikannya yang tak kunjung pulang, dan tak mau makan selama tiga hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara Tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah tiada. Ditemani S dan Jhon, ia pergi ke Stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang menimpa Hachi, istri Profesor Ueno, Yae harus meninggalkan rumah Profesor Ueno, Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan Jhon kemudian dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memilki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi melompat-lompat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan dirumah kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya Hachi ditipkan kerumah putri angkat Profesor Ueno, di Setayaga. Namun Hachi suka bermain ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluraga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor ueno kala masih hidup, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah hachi menunggu majikannya di Stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saito dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di Stasiun, Saito menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul, "Itoshiya roken monogatari" (Kisah Anjing Tua yang Tercinta).

Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang disekitar stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran "ko" (sayang) ditambahkan dibelakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachiko.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saito, seorang pematung bernama Teru Ando tersentuh dengan kisah Hachiko. Ando ingin membuat patung Hachiko. Setiap hari, Hachiko dibawa berkunjung ke studio milik Ando untuk berfose sebagai model. Ando berusaha mendahului laki-laki yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachiko. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachiko untuk kepentingan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Ando selesai menulis proposal untuk mendirikan patung hachiko, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachiko.

Patung Hachiko akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachiko bersama sekitar 300 orang. Ando juga membuat patung lain Hachiko yang sedang tiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kojun.

*Kematian Hachiko*
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachiko yang kala itu berumur 13 tahun ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachiko biasanya tidak pernah pergi ke sana. berdasarkan otopsi diketahi penyebab kematiannya adalah filariasis (penyakit menular yang disebabkan edema, infeksi cacing nematoda parasit).

Upacara perpisahan dengan Hachiko dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda mendiang Profesor Ueno, pasutri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myoyu-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachiko berlangsung layaknya upacara pemakaman manusia.

Hachiko dimakamkan di samping makam Profesor Ueno, di pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.


1 komentar:

  1. i love this story ,so absolutely incredible....

    BalasHapus